Dahulu kala, di tepi Sungai Mahakam yang jernih dan luas, hiduplah seorang gadis bernama Sambang Luyu, anak seorang penambang pasir yang sederhana. Wajahnya lembut, matanya bercahaya seperti bulan muda. Ia dikenal bukan hanya karena kecantikannya, tapi karena hatinya yang suci dan selalu menolong siapa pun yang kesusahan. Setiap hari, Sambang Luyu membantu ayahnya menyaring pasir di sungai, berharap menemukan butir intan kecil untuk dijual. Tapi mereka tak pernah serakah. Bila menemukan batu berkilau, ayahnya selalu berkata, > “Ambil secukupnya, karena harta yang diambil berlebihan akan kembali ke air.” Namun kebahagiaan itu sirna ketika datang seorang saudagar kaya dari seberang, Tuan Radin, yang mendengar kabar tentang pasir Sungai Mahakam yang menyimpan intan. Ia datang dengan perahu besar, membawa banyak pekerja, dan menggali dasar sungai tanpa henti. Ikan-ikan mati, air menjadi keruh, dan tebing mulai longsor. Sambang Luyu menegurnya, > “Tuan, sungai ini hidup. Jangan sakiti dia.” Tapi Radin menertawakannya. Ia bahkan menawan ayah Sambang Luyu dan memaksa gadis itu menunjukkan di mana letak batu intan terbesar. Dengan sedih, Sambang Luyu berdoa di tepi sungai, air matanya jatuh ke air yang sudah keruh. Tiba-tiba langit berubah gelap, angin menderu, dan dari dasar sungai muncul cahaya putih menyilaukan. Tuan Radin yang tamak panik, tapi terlambat — pusaran air menariknya masuk ke dasar sungai, tak pernah terlihat lagi. Sambang Luyu berlutut dan menangis. Air sungai kembali jernih, dan di tempat air matanya jatuh, muncullah butiran permata putih yang berkilau seperti cahaya bulan. Orang-orang kemudian menemukan batu itu di dasar sungai, dan menamainya Intan Luyu, atau “permata air mata”. Hingga kini, para penambang di Sungai Mahakam masih percaya bahwa bila menemukan batu intan putih bening sempurna, itu adalah air mata Sambang Luyu — simbol kesucian dan pengingat bahwa harta yang datang dari alam harus dijaga dengan hati yang bersih.
45
Views
0
Likes
0
Comments
0
Shares